Menjalani puasa ramadhan di musim pandemi (lagi)


Hal yang disukai ketika puasaan atau bulan ramadhan ialah banyak jenis makanan di sore hari, biasanya pasar atau orang jualan jajan ramainya di pagi hari tapi kalau ramadhan tiba malah lebih meriah lagi.

Jam 14.00 sudah mulai orang-orang berjualan, sudah mulai banyak lagi pembagian takjil dimana-mana dan menimbulkan macet jalanan juga buat dapatin takjil, dan inilah yang bikin kita agak kalap keluar uang banyak dihari pertama puasa.

Ngomong-ngomong puasaan di tengah pandemi corona, ini udah tahun kesekian kalinya kita berdampingan terus sama corona.

Gak ada bedanya sih, cuman kadang aku masih risih aja kalau keluar rumah pakai masker karena kalau kita bicara dengan orang lain tuh harus agak banter alias suara keras supaya kedengeran jelas kita ngomongnya.

Ah, itu sih yang masih mengganggu ku saat ini tapi yaudah yang namanya wabah, mau gak mau kita harus tetap prokes.

Meskipun ada slogan jaga jarak, tapi ya tetap sih aku berpikir gimana mau jaga jaraknya kalau kita belanja karena kadang kitanya sudah tertib tapi orang lain enggak dan jalan satu-satunya cuman doa supaya tetap dilindungi.

Sekarang aku udah gak pernah keluar ke tempat ramai karena masih agak takut aja dan agak trauma kecil, kejadian tahun lalu yang sakit tipus bahkan kondisi kesehatan up and down yang membuat ku terkejut gak pernah sakit kayak yang begini, akhirnya emang bener-bener dirumah dan keluar rumah kalau ditetangga atau ada keperluan penting aja.

Berharap issue virus ini segera hilang karena semakin menjadi-jadi peraturan pemerintah yang membatasi kita untuk sosialisasi (kenapa tempat wisata gak tutup kalau mau pulang kampung dilarang).

Apalagi kalau mau mudik harus vaksin booster terlebih dulu, kemudian dimana-mana sampai antri vaksin.

Orang-orang rela antri untuk vaksin booster pun rela antri bahkan 1 jam sebelum pembagian formulir pun mereka sempat-sempatkan.

Aku gimana?

Nanti aja lah, anak ku masih kecil dan antri lama sangat memakan waktu banget.

Kemudian semua harga sembako naik melejit, ini membuat ku mikir otak juga "lauk apa ini makan, gak mungkin telur tahu tempe terus karna apapun tetep butuh protein hewani buat tenaga ketika puasa".

Dan seperti cerita ku sebelumnya, ramadhan tahun ini agak berbeda karna emak (ibu) udah beda alam, dimana aku disini bener-bener mandiri padahal biasanya masih dibantu sama almarhumah emak.

Semoga selalu dikuatkan segala aspek sama Dia. .aamiin.

Komentar

  1. semoga pandemi segera berakhir dan bisa melaksanaka solat idul fitri berjamaah di masjid umum tanpa ada rasa takut ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin aamiin, makasih mbak doanya. Iya karna gejalanya kayak sakit pada umumnya jadi kadang gak tau juga imun seseorang itu naik atau turun, kadang rasa sakit disembunyikan sama mereka juga.

      Hapus

Posting Komentar